Siap-siap ya, bayangin aja kita lagi mempersiapkan mental buat masuk ke dunia kritik, kayak lagi siap-siap makan cabai super pedas yang warnanya aja udah bikin mata perih dan mulut kamu langsung mikir, "Ini cabai atau bom?" Sebelum mulai, pastiin kamu udah minum air dingin 10 gelas, jangan lupa juga bawa ember, karena bisa jadi kamu bakal teriak kayak habis ngeliat film horror, dan siapin tisu buat nyeka keringat yang keluar dari tempat-tempat yang nggak biasa. Pokoknya, kamu harus siap mental kayak lagi naik gunung terus makan yang pedas dan kehabisan air, Tapi semoga setelah ini, kamu malah ketagihan pedasnya!


Pujian dari sebagian masyarakat itu, meski niatnya baik, bisa jadi jebakan kalau direspon dengan rasa puas diri berlebihan. Pengurus merasa seolah-olah semua sudah cukup, padahal sebenarnya organisasi itu butuh lebih dari sekadar "ada kegiatan". Butuh manajemen yang baik, inovasi yang terus diperbarui, evaluasi rutin, dan pembinaan anggota secara berkelanjutan supaya bisa berkembang dengan sehat. Kalau pengurus berhenti di titik "asal jalan" saja, dalam jangka panjang organisasi akan kehilangan makna, dan akhirnya bisa ditinggalkan oleh generasi penerus. 

Sebagian besar pengurus dan mungkin juga anggota yang terlena dengan pujian yang datang. merasa sudah melakukan hal hebat, lalu timbul rasa puas dan bangga yang berlebihan. Bangga itu bagus kalau disertai kesadaran untuk terus memperbaiki diri. Tapi kalau kebanggaan membuat mereka berhenti berkembang, itu malah berbahaya. Mereka jadi menutup mata terhadap kekurangan yang sebenarnya nyata di depan mata akhirnya semangat belajar, berinovasi, dan berproses pun mati perlahan.

Dalam kondisi seperti ini, perubahan memang butuh kesabaran ekstra. Harus ada yang mau mengingatkan dengan cara yang elegan. karena ada juga masyarakat yang menilai sebaliknya. tapi mereka memilih diam.


Organisasi memang masih hidup, tapi hanya hidup musiman, aktif saat ada event besar saja. Seperti Peringatan hari besar Nasional, Atau Peringatan hari besar islam. Ini sering terjadi kalau pengurus tidak memahami esensi berorganisasi secara menyeluruh. Mereka menganggap organisasi itu hanya sebatas "panitia acara", bukan sebuah wadah yang harus berproses dan beraktivitas secara berkesinambungan. Akibatnya, setelah kegiatan besar selesai, organisasi kembali vakum, karena tidak ada program kerja berkelanjutan, tidak ada pembinaan anggota, dan tidak ada upaya untuk memperkuat hubungan internal.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini membuat organisasi kehilangan roh dan semangatnya. Organisasi jadi tidak berkembang, tidak memiliki identitas yang kuat, dan sulit membentuk kader-kader baru yang berkualitas. Aktivitas yang hanya sesekali itu juga membuat anggota tidak merasa benar-benar memiliki keterikatan emosional atau tanggung jawab terhadap organisasi.

Disebut panitia acara pun rasanya kurang pantas, karena biasanya panitia punya perencanaan matang, inovasi dalam konsep acara, hingga laporan pertanggungjawaban yang jelas setelah kegiatan. Di kasus ini, acara hanya digelar ala kadarnya, asal ada kegiatan supaya terlihat aktif, tanpa memikirkan kualitas maupun keberlanjutan. Perencanaan yang buruk, pelaksanaan seadanya, dan tidak adanya laporan membuat organisasi kehilangan nilai edukasi, tanggung jawab, dan profesionalitas yang seharusnya menjadi bagian penting dari berorganisasi. Kalau dibiarkan, budaya seperti ini akan membentuk mentalitas instan dalam diri pengurus dan anggota. Mereka mungkin akan kerja asal-asalan, tidak merasa perlu berinovasi, dan tidak terbiasa mempertanggungjawabkan amanahnya.


Jika pengurus tidak memahami cara berorganisasi, termasuk tidak mengerti tugas mereka, serta tidak memahami Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART), visi, dan misi, organisasi akan menghadapi berbagai masalah yang dapat menghambat kelancaran operasional. Tanpa pemahaman yang jelas tentang visi dan misi, pengurus tidak akan memiliki arah yang jelas dalam mengambil keputusan dan merencanakan kegiatan. Visi dan misi adalah pedoman utama yang menjadi dasar dalam menentukan tujuan dan arah jangka panjang organisasi. Tanpa pemahaman yang tepat mengenai keduanya, setiap keputusan yang diambil bisa tidak selaras dengan tujuan besar organisasi, dan kegiatan yang dilaksanakan terasa tidak memiliki arah yang jelas.

Lebih lanjut, jika pengurus tidak memahami tugas masing-masing, maka pelaksanaan kegiatan akan menjadi tidak efisien. Tugas yang seharusnya bisa dikerjakan secara kolaboratif bisa terbengkalai atau terlambat karena kebingungan mengenai siapa yang bertanggung jawab. Tanpa pembagian tugas yang jelas dan pemahaman yang menyeluruh mengenai peran masing-masing, organisasi akan kesulitan mengelola kegiatan secara efektif. Pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh satu orang bisa saja dikerjakan oleh banyak orang, atau sebaliknya, ada tugas yang terbengkalai karena tidak ada yang menyadari tanggung jawabnya.

Selain itu, ketidakpahaman terhadap AD ART dapat membuka potensi penyalahgunaan kekuasaan dalam pengambilan keputusan atau pelaksanaan kegiatan. AD ART adalah aturan dasar yang mengatur semua kegiatan dalam organisasi, termasuk hak dan kewajiban pengurus serta anggota. Tanpa pemahaman yang jelas mengenai aturan ini, pengurus bisa saja membuat keputusan yang tidak sah atau bertindak sewenang-wenang, yang berisiko merusak stabilitas dan kepercayaan anggota. Hal ini dapat menyebabkan ketidakadilan dalam pembagian tugas atau pemberian perlakuan yang tidak adil kepada anggota, yang akhirnya menurunkan semangat dan motivasi untuk berkontribusi.

Ketidaktahuan terhadap AD ART dan visi misi juga bisa merusak komunikasi dalam organisasi. Tanpa pedoman yang jelas, anggota dan pengurus bisa kesulitan dalam berkoordinasi, yang berujung pada miskomunikasi atau salah paham. Koordinasi yang buruk bisa menghambat kelancaran kegiatan dan membuat anggota merasa tidak dihargai atau kurang diberdayakan. Padahal, komunikasi yang efektif adalah kunci utama dalam menjalankan organisasi yang sehat dan berkembang. Ketika anggota merasa terabaikan atau bingung tentang tujuan bersama, mereka akan kehilangan rasa memiliki terhadap organisasi.

Kehilangan komunikasi yang efektif juga berimbas pada rendahnya produktivitas. Organisasi yang pengurusnya tidak paham akan struktur dan proses yang benar akan kesulitan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan secara terorganisir. Tanpa adanya perencanaan yang baik, kegiatan yang dilakukan bisa jadi tidak fokus atau bahkan gagal, meskipun dimulai dengan niat yang baik. Kegiatan yang tidak terencana dengan matang akan menyebabkan banyak waktu dan sumber daya yang terbuang sia-sia, yang pada akhirnya menurunkan efektivitas dan hasil yang dicapai oleh organisasi.

Selain itu, ketidakpahaman terhadap struktur organisasi dan peran masing-masing dapat menyebabkan konflik internal yang sulit diatasi. Ketika anggota tidak tahu apa yang diharapkan dari mereka atau tidak paham bagaimana cara berkontribusi, perasaan frustrasi akan muncul. Hal ini bisa menyebabkan perpecahan atau ketegangan di antara anggota, yang dapat memperburuk hubungan internal. Konflik yang tidak segera diselesaikan akan terus membesar, dan pada akhirnya bisa merusak keharmonisan dalam organisasi.

Dalam jangka panjang, jika masalah ini tidak segera diatasi, organisasi bisa kehilangan kredibilitasnya. Masyarakat atau pihak luar yang awalnya mendukung organisasi bisa mulai meragukan integritas dan kemampuan pengurus dalam mengelola organisasi. Organisasi yang tidak bisa mempertahankan kepercayaan anggota dan masyarakat akan kesulitan mendapatkan dukungan di masa depan. Ini berisiko mengancam kelangsungan hidup organisasi, karena tanpa dukungan yang cukup, organisasi akan kesulitan untuk bertahan. 

Baca Juga : Solusi tanapa aksi